Harga gas elpiji 3 kg di Sintang tembus 35 ribu pertabung

Diposting pada

SINTANG | Pojokkalbar.com-
Kelangkaan dan tingginya harga gas elpiji 3 kilogram atau yang biasa disebut gas melon dikeluhkan warga Kota Sintang. Kondisi itu sudah berlangsung hampir setahun, bahkan beberapa bulan terakhir harga gas di tingkat pengecer sempat menembus Rp 40 ribu per tabung.

Susi Arianti, warga Baning Kota, Kecamatan Sintang, mengaku kesulitan mendapatkan gas bersubsidi tersebut. Selain langka, harga yang dijual di pasaran juga jauh di atas harga eceran tertinggi (HET).

“Kalau di pangkalan harusnya Rp 18.500, tapi kenyataannya di pangkalan bisa Rp 27 ribu. Kalau di eceran, sudah sampai Rp 35 ribu bahkan pernah tembus Rp 40 ribu per tabung,” ungkap Susi, Senin (15/9/2025).

Ia menuturkan, di wilayah Baning Kota terdapat tiga pangkalan gas. Namun, hanya satu pangkalan yang relatif rutin melayani masyarakat, yakni di kawasan BTN Mata Bola, Jalan Oevang Oeray.

“Kalau di pangkalan itu hari ini habis, besok biasanya ada lagi. Bahkan sore pun masih buka. Tapi dua pangkalan lainnya kita tidak pernah tahu kapan datangnya gas. Ditanya pun jawabannya tidak jelas, nomor WA tidak dikasih, bahkan alasan mereka kedatangan gas tidak pasti,” keluhnya.

Susi menambahkan, kelangkaan gas membuat masyarakat kecil semakin terbebani. Pasalnya, gas elpiji merupakan kebutuhan pokok yang dipakai setiap hari.

“Kami sebagai konsumen sangat dirugikan. Dengan harga setinggi itu, jelas memberatkan. Mau tidak mau tetap beli, karena kebutuhan sehari-hari. Kami tidak tahu apakah kuota untuk Sintang dikurangi atau memang ada kendala lain. Harapan kami pemerintah bisa menambah kuota agar gas ini mudah didapat,” ujarnya.

Hingga kini, warga masih menanti kepastian dari pemerintah terkait solusi kelangkaan gas elpiji 3 kilogram di Kota Sintang.

Menurut Susi, di Baning Kota ada tiga pangkalan resmi. Namun, hanya satu pangkalan di BTN Mata Bola Jalan Oevang Oeray yang konsisten melayani masyarakat.
“Kalau pangkalan itu habis, besok biasanya ada lagi. Tapi dua pangkalan lainnya kita tidak tahu kapan datangnya gas. Ditanya pun jawabannya tidak jelas, nomor WA juga tidak dikasih,” keluhnya.

Susi menambahkan, kelangkaan ini sangat merugikan masyarakat kecil. “Kami pakai gas setiap hari. Kalau harganya terus tinggi, jelas sangat memberatkan. Harapan kami pemerintah bisa menambah kuota atau mencari solusi,” ujarnya.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *