SINTANG | Pojokkalbar.com-
Persoalan bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Sintang kembali memantik amarah warga. Kali ini, jeritan datang dari pedalaman, tepatnya Desa Nanga Kemangai, Kecamatan Ambalau. Kelangkaan BBM yang sudah berlangsung beberapa hari terakhir membuat aktivitas warga nyaris lumpuh total.
Yosep Obeng, motoris transportasi sungai yang sehari-hari menggantungkan hidup dari angkutan penumpang, mengaku sudah kehabisan akal. BBM jenis bensin nyaris tak tersedia. Kalaupun ada, harganya melambung tak masuk akal, tembus Rp23 ribu per liter.
“Minyak sudah beberapa hari kosong. Kalau ada pun mahal sekali. Kami sangat terdampak,” keluh Yosep, Rabu,(7/1/2026).
Ironisnya, di Kecamatan Ambalau sebenarnya berdiri SPBU mini. Namun, menurut warga, fasilitas itu seperti bangunan mati. Sudah lima tahun terakhir tak pernah terisi BBM.
“Kami punya SPBU mini, tapi tidak pernah diisi. Pertanyaan masyarakat jelas, ke mana jatah BBM itu? Informasi yang kami terima, jatah ada, tapi tidak pernah sampai ke SPBU. Sampai hari ini kosong melompong,” tegas Yosep.
Dampaknya bukan main. Transportasi air—urat nadi mobilitas warga Ambalau—banyak yang berhenti beroperasi. Speed boat dan tambang tak bisa mengangkut penumpang karena ketiadaan BBM.
“Transportasi air banyak yang tidak bisa beroperasi. Penumpang terlantar,” ujarnya.
Situasi kian memprihatinkan karena bertepatan dengan momen tahun ajaran baru. Banyak pelajar yang hendak masuk sekolah ke Sintang maupun Melawi terpaksa tertahan di kampung.
“Ini momen anak sekolah mau masuk. Tapi speed boat dan tambang tidak jalan karena minyak tidak ada. BBM ini paling urgen,” katanya dengan nada geram.
Keluhan serupa disampaikan motoris lainnya. Demi tetap beroperasi, mereka terpaksa membeli BBM dari Kabupaten Melawi dengan harga tinggi. Biaya operasional membengkak, sementara pendapatan tak sebanding.
“Kami terpaksa beli dari Melawi. Harganya Rp23 ribu per liter. Mau tidak mau, demi antar penumpang,” ujar Serius seorang motoris lainnya.
Kelangkaan dan mahalnya BBM ini juga memukul sektor darat. Banyak kendaraan terpaksa menganggur. Rantai ekonomi warga ikut tersendat, sementara penumpang terlantar tanpa kepastian.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak terkait mengenai penyebab mandeknya pasokan BBM ke Kecamatan Ambalau, termasuk nasib SPBU mini yang selama bertahun-tahun tak berfungsi. Warga menuntut pemerintah dan pihak berwenang segera turun tangan sebelum Ambalau benar-benar lumpuh.(red)



