SINTANG | Pojokkalbar.com-
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Sintang, Lili Suryani, mengatakan pihaknya menyediakan beras premium sebanyak 500 kilogram serta paket sembako dalam pelaksanaan GPM tersebut.
Paket sembako yang ditawarkan terdiri atas satu karung beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) kemasan lima kilogram, satu liter minyak goreng, dan satu kilogram gula pasir.
Untuk membantu masyarakat mendapatkan bahan pangan dengan harga terjangkau, pemerintah memberikan subsidi sebesar Rp13.000 untuk setiap paket sembako. Dengan adanya subsidi tersebut, satu paket yang terdiri atas tiga jenis kebutuhan pokok itu dijual seharga Rp95.000.
“Untuk satu paket sembako mendapatkan subsidi Rp13.000 per paket, sehingga satu paket sembako yang terdiri dari satu karung beras SPHP kemasan lima kilogram, satu liter minyak goreng, dan gula satu kilogram dijual Rp95.000,” terang Lili Suryani.
Menurut Lili, penyediaan beras dan paket sembako dalam GPM merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah menjaga keterjangkauan pangan bagi masyarakat. Melalui program tersebut, warga dapat membeli sejumlah kebutuhan pokok dalam satu paket dengan harga yang telah mendapatkan subsidi.
Pelaksanaan GPM juga menjadi salah satu langkah pemerintah daerah dalam merespons perkembangan harga pangan dan menjaga daya beli masyarakat, khususnya ketika distribusi barang mengalami kendala.
Dengan dukungan perangkat daerah terkait dan Bulog, Pemkab Sintang berharap ketersediaan pangan dengan harga terjangkau dapat terus dijaga. Pemerintah daerah juga berencana kembali menggelar GPM menjelang akhir tahun 2026 sebagai upaya membantu masyarakat menghadapi kebutuhan rumah tangga yang cenderung meningkat pada periode tersebut.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan program pangan murah sesuai kebutuhan, sementara koordinasi antara pemerintah daerah dan pihak terkait terus diperkuat untuk mendukung kelancaran pasokan serta kestabilan harga bahan pokok di Kabupaten Sintang.
Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang, Kartiyus, mengatakan pelaksanaan GPM pada Oktober 2026 telah dilakukan sebanyak tiga kali. Langkah tersebut merupakan upaya pemerintah daerah membantu masyarakat menghadapi kenaikan harga sejumlah komoditas pangan yang turut memengaruhi angka inflasi di Kabupaten Sintang.
Menurut Kartiyus, kenaikan harga sayuran dan sejumlah bahan kebutuhan pokok tidak terlepas dari kendala pasokan serta meningkatnya biaya transportasi. Kondisi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) disebut ikut menghambat distribusi barang dari daerah pemasok menuju Sintang.
“Inflasi di bulan September kemarin sudah di angka 3,5 persen. Penyebabnya BBM langka sehingga mengganggu pasokan sayuran. Biaya angkut mahal, petani terpaksa menaikkan harga sayur,” terang Kartiyus.
Ia menjelaskan, kelancaran distribusi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok. Ketika pasokan terganggu dan biaya angkut meningkat, harga barang yang sampai ke konsumen berpotensi mengalami kenaikan.
Karena itu, Pemkab Sintang terus berupaya melakukan langkah intervensi melalui pelaksanaan GPM. Program tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari tanpa harus sepenuhnya mengikuti kenaikan harga di pasaran.
Kartiyus juga berharap kondisi cuaca segera membaik dan pasokan BBM kembali normal sehingga distribusi barang ke Kabupaten Sintang dapat berjalan lancar. Menurutnya, membaiknya pasokan dan distribusi diharapkan berdampak pada penurunan biaya angkut serta harga kebutuhan pokok.
“Kita berdoa supaya musim hujan segera datang dan ponton minyak Pertamina bisa masuk ke Kota Sintang lagi, sehingga BBM bisa normal lagi dan tentu harga barang bisa turun lagi,” ujarnya.(red)



