Kasus IMS Tetap Ditemukan Setiap Tahun, Deteksi Dini Terus Diperkuat

Diposting pada

SINTANG | Pojokkalbar.com-

Kepala UPT Puskesmas Sungai Durian Dimas Eko Kusprihastono mengatakan bahwa penanganan kasus Infeksi Menular Seksual (IMS) di wilayah kerjanya terus dilakukan melalui pendekatan deteksi dini, pemeriksaan, hingga pengobatan.

Menurutnya, Puskesmas Sungai Durian telah memiliki Klinik IMS yang menjadi pusat layanan skrining dan penanganan bagi masyarakat.

“Program IMS sudah lama kami jalankan. Di Puskesmas Sungai Durian sudah ada Klinik IMS dengan pendekatan skrining, deteksi dini, penemuan kasus, hingga pengobatan. Penyakit ini sebenarnya bisa diobati apabila ditemukan sejak dini,” ujarnya. Kamis,(9/7/2026).

Ia menjelaskan, penemuan kasus dilakukan tidak hanya menunggu pasien datang ke puskesmas, tetapi juga melalui kegiatan jemput bola terhadap kelompok-kelompok yang berisiko.

“Kami melakukan deteksi dari pasien yang datang ke Klinik IMS, tetapi juga secara proaktif turun ke kelompok-kelompok kunci dan lokasi tertentu untuk melakukan skrining,” katanya.

Menurutnya, kasus IMS masih ditemukan setiap tahun. Bahkan, secara tren jumlah kasus yang tercatat mengalami peningkatan.

Namun, peningkatan tersebut tidak selalu berarti penularan semakin tinggi, melainkan juga dipengaruhi oleh semakin aktifnya upaya skrining serta meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri.

“Setiap tahun memang selalu ada kasus. Angkanya cenderung meningkat, tetapi salah satu penyebabnya adalah deteksi dini yang semakin aktif dan masyarakat juga sudah mengetahui bahwa pemeriksaan IMS tersedia di puskesmas sehingga mereka bersedia datang untuk diperiksa,” jelasnya.

Ia menambahkan, beberapa kasus juga ditemukan pada kelompok remaja sehingga upaya pencegahan harus melibatkan banyak pihak, tidak hanya tenaga kesehatan.

Karena itu, ia menilai peran keluarga, sekolah, masyarakat, hingga pemerintah daerah sangat penting dalam menekan penyebaran IMS.

“Pencegahan tidak bisa hanya dilakukan oleh sektor kesehatan. Keluarga, sekolah, masyarakat, hingga lintas sektor harus ikut berperan melalui edukasi, sosialisasi, deteksi dini, serta kebijakan yang mendukung,” ujarnya.

Ia mencontohkan sejumlah kebijakan yang dinilai dapat mendukung upaya pencegahan, seperti pengawasan terhadap aktivitas remaja pada malam hari maupun penertiban rumah kos agar tercipta lingkungan yang lebih kondusif.

“Kerja sama lintas sektor sangat dibutuhkan agar upaya pencegahan IMS bisa berjalan lebih efektif,” pungkasnya.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *