Kadinkes Sintang Dukung Gercep Stunting, Tekankan Sinergi Puskesmas dan Lintas Sektor

Diposting pada

SINTANG | Pojokkalbar.com-
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, Rosa Trifina, mendukung Gerakan Cepat Penurunan Stunting (Gercep Stunting) yang dilaksanakan jajaran Puskesmas Tanjungpuri, Kecamatan Sintang.

Dukungan tersebut disampaikan Rosa Trifina saat memberikan pengarahan dalam Lokakarya Mini Lintas Sektor Wilayah Kerja Puskesmas Tanjungpuri di Aula CU Keling Kumang, Kamis (29/10/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Camat Sintang, jajaran Puskesmas Tanjungpuri, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), TP PKK, serta pihak terkait lainnya.

Rosa Trifina mengatakan, sinergi lintas sektor menjadi salah satu kunci penting dalam memperkuat upaya pencegahan dan penanganan stunting di Kabupaten Sintang.

Menurutnya, upaya menurunkan angka stunting membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar intervensi yang dilakukan dapat menjangkau keluarga sasaran secara tepat dan berkelanjutan.

Ia mengungkapkan, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), angka stunting di Kabupaten Sintang pada 2024 tercatat sebesar 31 persen. Sementara itu, berdasarkan data Pemantauan Pertumbuhan dan Gizi Masyarakat (PPGM), angkanya berada di angka 21,28 persen pada tahun yang sama.

“Untuk tahun 2025 tidak ada survei pengukuran. Berapa pun angkanya, ada tantangan besar yang membutuhkan tindakan bersama yang lebih terarah,” ujar Rosa Trifina.

Ia menegaskan, Gercep Stunting harus dilaksanakan melalui pembagian peran yang jelas antara Dinas Kesehatan, Puskesmas, pemerintah desa dan kelurahan, serta unsur masyarakat lainnya.

Tiga Poin Penting dalam Gercep Stunting

Rosa menjelaskan, terdapat tiga poin penting yang perlu dipahami dan dilaksanakan bersama dalam upaya percepatan penurunan stunting.

Pertama, Dinas Kesehatan memastikan arah kebijakan, dukungan, dan mutu pelayanan.

Dinas Kesehatan memiliki peran dalam memperkuat pembinaan teknis, meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan, memastikan ketersediaan alat ukur pertumbuhan, memenuhi kebutuhan pelayanan gizi, serta memperkuat jejaring rujukan.

Selain itu, Dinas Kesehatan harus memantau hasil kegiatan dan mengoordinasikan penyelesaian berbagai hambatan yang tidak dapat ditangani oleh Puskesmas secara mandiri.

Kedua, Puskesmas memastikan pencegahan dan penanganan menjangkau keluarga sasaran.

Menurut Rosa, Puskesmas harus memperkuat berbagai intervensi kesehatan, mulai dari pencegahan anemia pada remaja putri dan ibu hamil, pemeriksaan kehamilan, dukungan pemberian ASI eksklusif, pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang tepat, hingga imunisasi.

Pemantauan pertumbuhan balita juga harus dilakukan secara benar dan teratur agar gangguan pertumbuhan dapat diketahui sedini mungkin.

“Anak yang mengalami gangguan pertumbuhan harus segera diperiksa, dipahami penyebabnya, dirujuk bila diperlukan, dan ditindaklanjuti,” pesannya.

Ia menekankan, penanganan tidak boleh berhenti pada pengukuran berat dan tinggi badan. Anak yang terindikasi mengalami masalah pertumbuhan perlu mendapatkan pemeriksaan serta intervensi sesuai kondisi dan kebutuhannya.

Ketiga, lintas sektor memastikan keluarga memperoleh lingkungan dan dukungan yang sehat.

Rosa mengatakan, keberhasilan penurunan stunting tidak hanya bergantung pada pelayanan kesehatan, tetapi juga dipengaruhi kondisi lingkungan dan dukungan keluarga.

Karena itu, kepala desa dan lurah diharapkan mendukung kegiatan Posyandu, pendataan keluarga sasaran, pelaksanaan program, serta pengalokasian anggaran sesuai kewenangan masing-masing.

Sementara itu, TP PKK diharapkan membantu keluarga mengakses pelayanan dan meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya pemenuhan gizi serta pola asuh yang tepat bagi anak.

Menurutnya, kolaborasi tersebut diperlukan agar keluarga yang membutuhkan tidak terlewat dari program pencegahan dan penanganan stunting.

Lokakarya Harus Menghasilkan Langkah Nyata

Rosa berharap Lokakarya Mini Lintas Sektor tidak hanya menjadi forum koordinasi, tetapi juga menghasilkan langkah kerja yang konkret dan terukur.

Setidaknya, terdapat empat hal yang perlu dihasilkan melalui lokakarya tersebut, yakni data sasaran yang valid, pembagian tugas yang jelas, penetapan batas waktu pelaksanaan, serta evaluasi hasil secara berkala.

Ia meminta seluruh pihak memprioritaskan keluarga yang paling membutuhkan dukungan, baik dalam bentuk bantuan pangan, pelayanan kesehatan, pendampingan keluarga, maupun perbaikan lingkungan.

Berbagai bentuk intervensi tersebut juga harus saling melengkapi dan menyasar keluarga yang sama agar hasilnya lebih optimal.

“Prioritaskan keluarga yang membutuhkan. Pastikan bantuan pangan, pelayanan kesehatan, pendampingan, dan perbaikan lingkungan saling melengkapi pada sasaran yang sama,” tegasnya.

Melalui Gercep Stunting dan penguatan koordinasi lintas sektor, Rosa berharap upaya pencegahan serta penanganan stunting di wilayah kerja Puskesmas Tanjungpuri dapat berjalan lebih terarah.

Ia menekankan pentingnya komitmen bersama agar setiap program tidak hanya terlaksana, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi keluarga dan anak-anak yang membutuhkan.

Dengan demikian, percepatan penurunan stunting dapat dilakukan melalui pelayanan kesehatan yang berkualitas, dukungan keluarga, serta keterlibatan aktif seluruh unsur masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *