SINTANG | Pojokkalbar.com-
Pemadaman listrik bergilir yang terus dilakukan ULP PLN Sintang kembali menuai keluhan. Kali ini, dampaknya dirasakan langsung oleh pelaku usaha mikro yang menggantungkan aktivitas produksinya pada pasokan listrik.
Salah satunya dialami Sarini, penjual jamu gendong yang tinggal di Kelurahan Kapuas Kanan Hulu, Kabupaten Sintang. Ia mengaku mengalami kerugian hingga ratusan ribu rupiah akibat listrik yang berulang kali padam dalam beberapa hari terakhir.
Menurut Sarini, aktivitas usahanya praktis lumpuh setiap kali listrik dipadamkan. Peralatan utama berupa blender yang digunakan untuk mengolah berbagai jenis jamu tidak dapat dioperasikan, sehingga pesanan pelanggan terpaksa ditunda bahkan dibatalkan.
“Lebih susah lagi, mau memblender jamu saja tidak bisa. Padahal saya jual sedikit-sedikit untuk pelanggan setiap hari,” keluhnya pada Minggu,(5/7/2026).
Ia mengaku sangat kecewa karena pemadaman listrik yang berulang membuat proses produksi berhenti total. Kondisi tersebut bukan hanya mengurangi pendapatan, tetapi juga berpotensi membuat pelanggan beralih ke penjual lain.
“Waduh, efek listrik padam berkali-kali akhirnya pembuatan pesanan jamu harus berhenti karena blender tidak berfungsi,” ujarnya.
Bagi pelaku usaha kecil seperti dirinya, setiap hari tanpa berjualan berarti kehilangan pemasukan. Sementara di sisi lain, berbagai kewajiban ekonomi tetap harus dipenuhi.
Sarini mengaku masih memiliki cicilan yang harus dibayarkan setiap bulan, mulai dari angsuran kendaraan hingga kredit tanah. Karena itu, ia berharap PLN segera memberikan solusi agar pemadaman tidak terus berlarut.
“Gimana mau bayar setoran FIF dan kredit tanah kalau begini terus. Kalau solusi dari PLN tidak cepat, bisa-bisa dapur ibu-ibu berantakan,” katanya.
Ia juga menyoroti nasib pelaku usaha kecil lainnya yang sama-sama terdampak akibat listrik padam.
“Apalagi yang jual es batu, mana bisa beku kalau listrik sering mati,” ucapnya.
Keluhan Sarini menjadi potret nyata bagaimana pemadaman listrik tidak hanya mengganggu kenyamanan masyarakat, tetapi juga berdampak langsung terhadap roda perekonomian warga. Usaha mikro yang bergantung pada peralatan listrik menjadi kelompok yang paling rentan karena kehilangan waktu produksi sekaligus pendapatan harian.
Sarini juga menyinggung perlakuan PLN terhadap pelanggan yang dinilainya tidak seimbang. Ia mengaku masih menggunakan meteran listrik (KWh) model lama atau pascabayar. Karena itu, setiap kali terlambat membayar tagihan, petugas disebut selalu datang langsung ke rumah untuk melakukan penagihan.
“KWh saya masih model lama. Kalau telat bayar, petugas tegas datang nagih ke rumah. Giliran listrik sering padam seperti ini sampai usaha saya rugi ratusan ribu rupiah, siapa yang bertanggung jawab?” tanya Sarini.
Menurutnya, pelanggan selalu dituntut memenuhi kewajiban membayar tagihan tepat waktu. Namun ketika layanan listrik terganggu hingga berdampak pada mata pencaharian masyarakat, pelanggan justru tidak memperoleh kepastian mengenai bentuk pertanggungjawaban atas kerugian yang dialami.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak ULP PLN Sintang terkait besaran kerugian yang dialami pelaku usaha maupun langkah konkret untuk meminimalkan dampak pemadaman listrik bergilir terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.(red)



