Permainan Lato-Lato Dongkrak Perekonomian Masyarakat, Ini Tanggapan Kadisperindagkop

Diposting pada

Sintang | Pojokkalbar.com-
Permainan lato-lato belakangan ini ramai digandrungi banyak orang tak ketinggalan juga masyarakat Kabupaten Sintang, dengan demikian pedagang lato-lato yang ada di sepanjang jalan Katamso Kelurahan Kapuas Kanan Hulu, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat ,banyak meraup keuntungan dari penjualan permainan etek-etek ini, bahkan seharinya saja mampu tembus Rp. 200 hingga Rp. 300.000an.

Windra mengaku yang kesehariannya berjual petasan dan kembang api mengaku dagangannya kurang laku, maka dengan keluarnya permainan Lato-Lato ini dirinya sangat terbantu untuk perekonomiannya.

“Petasan dan kembang api sepi pembeli ketika Lato-Lato keluar maka lebih enak jual Lato-Lato dan lebih lumayan penghasilannya terkadang Rp. 200 ribu hingga Rp. 300 ribuan lebih perhari, “katanya.

Windra mematok harga Lato-Lato per satuanya Rp. 20 ribu, sementara dari modal Rp. 8 ribu sehingga meraup keuntungan Rp. 12 an ribu.

Dengan viralnnya permainan etek-etek ini Windra mengaku terbantu perekonomiannya.

Sementara windra yang belum genap satu minggu jualan Lato-Lato ini mengaku banyak pemasukan, awalnya hanya coba-coba.

” Awalnya hanya coba-coba, tapi selama satu minggu berjualan ini pemasukan cukup lumayan, “katanya.

Ijar pedagang lainya mengaku ketika baru-baru viral dirinya mampu menjual 8-10 lusin Lato-Lato perhari namun belakangan ini agak sedikit menurun.

“Waktu baru-baru viral lalu laris, lato-lato saya mampu terjual 8-10 lusin, cuman belakangan ini selain banyak penjual mungkin masyarakat juga sudah banyak yang punya, jadi agak sedikit menurun, ” Kata Ijar.

Harga yang ditawarkan pun beragam melihat dari jenis bahanya ada yang dibandrol Rp. 20-25 ribu rupiah per satuanya.Penurunan pembeli diakui dia tidak signifikan hanya saja jika dibanding awal viral.

Menyikapi hal itu Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM Kabupaten Sintang Arbudin menyatakan, bahwa terkait maraknya permainan Lato-Lato dimana daerah kabupaten Sintang itu, anak-anak banyak memainkannya dan dari pantauan para pedagang mainan tentu meraup keuntungan, tetapi dari tingkat kenaikan angka perekonomian, karena Lato-Lato ini tidak termasuk dalam yang memberi pengaruh kepada inflasi tidak bisa dikategorikan sebagai barang pendongkrak dan memberi pengaruh pada inflasi maka pihaknya tidak bisa mengkategorikan lato-lato sebagai pendongkrak perekonomian. Pasalnya barang permainan ini bersifat musiman tidak terlalu masif dan kebetulan saja di Sintang kota mudah terlihat namun tidak menjangkau ke daerah pedalaman kecamatan, ke desa tidak banyak pengaruh ke peningkatan ekonomi secara manual.

“Tetapi bagi pedagang mainan tentu memperoleh keuntungan, ini hanya berlaku spesifik khusus pedagang mainan saja tidak mencakup keseluruhan pedagang atau pelaku ekonomi secara masal boleh dikatakan hal ini tidaklah terlalu berdampak signifikan, ini adalah mainan yang lagi viral saja sehingga anak-anak senang, “pungkasnya.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *