Sintang | Pojokkalbar.com –
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sintang Kurniawan menegaskan, masyarakat kabupaten Sintang diharapkan bijak dalam menggunakan kecanggihan teknologi, sebelum sher informasi sebaiknya di sharing terlebih dahulu.
Untuk jaman digitalisasi ini lanjut dia, masyarakat mesti teliti dan pandai memilah,mana informasi yang benar dan positif , mana informasi yang menyesatkan, sebab itu diharapkan pula masyarakat intens kroscek lebih dulu sebelum membagikan informasi yang didapat.
“Saya sebagai kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sintang mengajak masyarakat untuk dewasa dalam bermedsos, jika mendapat informasi kroscek dulu dari mana sumbernya, kroscek dulu kebenarannya agar tidak salah membagikan informasi yang didapat, ” Ajak Kurniawan pada Jumat, (6/1/2023) di Sintang.
Saat ini sebut dia banyak informasi yang tidak jelas sumbernya sebab itu masyarakat Sintang diimbau untuk bijak menyikapinya.
“Saat ini banyak informasi yang tidak jelas sumbernya bertebaran di medsos maka kita harus dewasa, Hati-hati dan bijak menyikapinya,
Gunakanlah media sosial yang Anda punya baik akun Instagram, akun Facebook, Twitter, Whatsapp, Telegram, Email maupun akun medsos lainya untuk bersosialisasi dengan baik.
Kurniawan Kadis Kominfo Kabupaten Sintang menegaskan bahwa masyarakat harus bisa menyamakan persepsi dalam ber media sosial.
Kurniawan membeberkan data pengguna internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 202,6 juta atau 73,7 % dari total jumlah penduduk Indonesia. Jumlah pengguna Media sosial Indonesia pada awal 2021 mencapai 170 juta orang atau 61,8%. Sekitar 30 juta anak-anak dan remaja di Indonesia pengguna internet dan media digital. Pengguna media sosial telah didominasi oleh perempuan dangan jumlah 76%. Sebanyak 56% perempuan mengakses facebook, sementara pria yang hanya berjumlah 49,5% saja. Perempuan menggunakan waktunya sebanyak 30% untuk berkomunikasi melalui media sosial, sementara itu pria hanya menggunakan 26%. Laporan Napoleon Cat menunjukkan mayoritas atau 52,6% pengguna instagram di Indonesia adalah perempuan.
“Jejak digital merupakan jejak elektronik yang ditinggalkan ketika beraktivitas digital, seperti mengirim email, mengunjungi sebuah website, posting, unggahan komentar, foto atau video yang diunggah ke media sosial. Jejak digital selain membekas dan terekam pada perangkat yang digunakan oleh pengguna, juga terekam pada server-server perusahaan internet. Jejak digital membuka akses bebas orang-orang tak bertanggung jawab membobol data-data penting seperti rekening ATM atau berbagai file berharga di tempat kerja, terlalu banyak menggunakan handphone juga bisa menyebabkan anak menjadi autis. dr Melly Budhiman, SpKJ yang merupakan Presiden dari Yayasan Autisma Indonesia menyampaikan bahwa fenomena banyaknya orang tua yang memperbolehkan anak-anaknya bermain gadget sejak usia kecil bahkan bayi, bisa memicu autisme pada sang anak, ” hal ini juga pernah disampaikan Kurniawan saat menjadi narasumber kegiatan GOW belum lama ini.
Hadirnya sosial media lanjut dia membuat orang cenderung membanding-bandingkan hidup dengan orang lain.Membandingkan kemampuan, pendapat, sifat atau gaya hidup dengan orang lain. Apa yang ditampilkan seseorang di Medsos cenderung bukan gambaran yang asli, melainkan rekayasa atau manipulasi.
“Perilaku membagikan informasi pribadi di media sosial secara berlebihan, seperti foto, video, atau informasi pribadi dan aktivitas sehari-hari. Over sharing dapat menjadi bumerang bagi si pelakunya, karena memicu orang jahat untuk melakukan niatnya,saya mengajak kaum perempuan di Kabupaten Sintang untuk bijak dan cerdas menggunakan media sosial karena bisa berimplikasi hukum dengan adanya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik. Cerdas Bermedsos bisa ditunjukan dengan teliti memperoleh informasi di Medsos, cermat membuat konten di Medsos, Hati-Hati Membagi sesuatu di Medsos, dan selektif bergabung di Group Medsos, ”pungkasnya.(red)



