Disdikbud Sintang Dorong Penguatan Guru BK Hadapi Kompleksitas Persoalan Siswa

Diposting pada

SINTANG | Pojokkalbar.com-
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang mendorong penguatan peran guru Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah untuk menghadapi semakin kompleksnya persoalan yang dialami peserta didik.

Kepala Bidang Pendidikan SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang Sudirman mengatakan, keberadaan guru BK sangat penting di tengah perkembangan teknologi dan perubahan perilaku anak.

Menurutnya, kemajuan teknologi memberikan tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan karena anak-anak saat ini memiliki akses yang sangat luas terhadap berbagai informasi dan hiburan melalui perangkat digital.

“Memang butuh peran pemerintah daerah. Bagaimanapun peran BK sangat penting. Generasi sekarang dihadapkan dengan kemajuan teknologi dan hiburan yang menjamur di mana-mana,” ujarnya. Saat menjadi nara sumber pada acara Kerja Sama Lintas Sektor Dalam Pencegahan KTA ABH dan Perkawinan Anak di Balai Praja Lingkungan Kantor Bupati Sintang pada Rabu,(30/9/2026).

Ia mengatakan, kondisi tersebut membutuhkan keterlibatan tidak hanya guru BK, tetapi juga kepala sekolah, guru mata pelajaran dan orang tua.

Menurutnya, rasio guru dan siswa yang belum seimbang menjadi salah satu kendala dalam memberikan pembinaan secara optimal.

“Rasio guru dan siswa itu tidak seimbang. Mudah-mudahan kita bisa meningkatkan hal itu, supaya guru BK bisa menambah tenaga,” katanya.

Selain keterbatasan tenaga, kegiatan guru BK di sekolah juga masih terbatas. Karena itu, ia berharap dukungan pemerintah daerah dan lembaga terkait dapat memperkuat layanan konseling di sekolah.

Orang Tua Perlu Terlibat

Ia menilai, pembinaan anak tidak cukup hanya dilakukan di sekolah. Pendidikan keluarga dan komunikasi antara sekolah dengan orang tua menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter siswa.

Menurutnya, salah satu kendala yang sering ditemui adalah kurangnya kolaborasi antara sekolah dan keluarga.

“Artinya kita mendidik mereka, moral mereka di sekolah dengan disiplin yang tinggi, tetapi tidak ditanamkan dengan pendidikan keluarga dan pendidikan agama yang mapan di dalam keluarganya,” katanya.

Ia juga mengungkapkan masih adanya orang tua yang bersikap defensif ketika dipanggil sekolah berkaitan dengan persoalan perilaku anak.

Padahal, menurutnya, keterlibatan orang tua sangat dibutuhkan agar persoalan siswa dapat ditangani bersama.

Ia berharap orang tua tidak menyerahkan sepenuhnya persoalan pendidikan dan pembinaan anak kepada sekolah.

“Ketika ada permasalahan yang terjadi, yang pertama adalah keluarga. Ini memang terjadi,” ujarnya.

Gadget Jadi Tantangan

Perkembangan teknologi dan penggunaan gadget juga menjadi perhatian Dinas Pendidikan Sintang.

Ia mengatakan, anak-anak saat ini semakin mudah mengakses berbagai konten melalui internet. Karena itu, sekolah perlu memberikan pemahaman dan pengawasan agar penggunaan teknologi tidak berdampak negatif terhadap perilaku siswa.

Dinas Pendidikan, kata dia, juga telah mendorong pengaturan penggunaan perangkat elektronik dalam proses pembelajaran. Gadget tidak diperkenankan digunakan selama pembelajaran apabila tidak ada instruksi dari guru.

“Selama proses pembelajaran ketika tidak ada instruksi dari guru, maka tidak boleh membawa gadget untuk digunakan di sekolah,” katanya.

Ia menambahkan, pemerintah memang telah memberikan sejumlah dukungan perangkat untuk menunjang proses pembelajaran berbasis teknologi. Namun, bantuan tersebut masih terbatas dan belum dapat memenuhi kebutuhan seluruh sekolah.

Karena itu, pemanfaatan teknologi tetap perlu diimbangi dengan pengawasan, pembinaan karakter dan komunikasi yang baik antara sekolah dengan keluarga.

Menurutnya, penanganan persoalan siswa merupakan tanggung jawab bersama.

“Bukan hanya guru BK. Guru lain juga punya tanggung jawab yang sama terkait permasalahan ini,” tegasnya.

Ia berharap sinergi antara pemerintah daerah, sekolah, guru BK, guru mata pelajaran dan orang tua dapat terus diperkuat sehingga berbagai persoalan yang dihadapi anak dapat dicegah dan ditangani sejak dini.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *