Kasus HIV/AIDS Sintang Tembus 995 Kasus, Sungai Durian Tertinggi

Diposting pada

SINTANG | Pojokkalbar.com-

Lonjakan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Sintang terus menunjukkan tren mengkhawatirkan. Data kumulatif hingga 2025 mencatat total 995 kasus, naik tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Meski sempat menurun pada 2024, angka kembali meningkat pada 2025 seiring bertambahnya temuan kasus baru di sejumlah wilayah kerja puskesmas.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, Rosa Trifina, mengatakan, peningkatan kasus HIV/AIDS di wilayahnya tidak lepas dari semakin masifnya kegiatan skrining dan penemuan kasus baru di fasilitas layanan kesehatan.

“Ini bukan semata-mata karena penularan yang meningkat drastis, tetapi juga karena upaya deteksi dini yang semakin gencar dilakukan oleh puskesmas dan tenaga kesehatan di lapangan,” ujarnya. Pada Selasa,(6/5/2026)

Ia menjelaskan, sebagian besar kasus masih didominasi oleh kelompok usia produktif. Hal ini, menurutnya, menjadi perhatian serius karena berdampak langsung terhadap kualitas sumber daya manusia di daerah.

Rosa menambahkan, pemerintah daerah terus memperkuat langkah pencegahan melalui edukasi masyarakat, peningkatan layanan konseling, serta penyediaan terapi antiretroviral (ARV) bagi penderita.

“Kami juga mendorong masyarakat untuk tidak takut melakukan tes HIV. Semakin cepat diketahui, semakin cepat pula penanganan bisa diberikan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya peran keluarga dan lingkungan dalam memberikan dukungan kepada orang dengan HIV/AIDS (ODHA), guna mengurangi stigma serta meningkatkan keberhasilan pengobatan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sintang, Haryono Linoh menyatakan bahwa berdasarkan data per puskesmas tahun 2025, wilayah Sungai Durian mencatat kasus tertinggi dengan 32 kasus. Disusul Nanga Mau dan Sepauk masing-masing 11 kasus, serta Tanjung Puri 10 kasus. Sementara itu, Dedai mencatat 8 kasus, dan sejumlah wilayah lain berada di bawah angka tersebut.

Menariknya, angka kematian relatif rendah dibandingkan jumlah kasus. Pada 2025, sebagian besar wilayah mencatat nol kasus kematian, meski masih ditemukan kematian di beberapa titik seperti Sungai Durian, Nanga Mau, Tanjung Puri, Kebong, dan Nanga Ketungau.

Jika ditarik ke belakang, tren kasus HIV/AIDS di Sintang mengalami peningkatan signifikan dalam satu dekade terakhir. Pada 2022 tercatat 672 kasus, naik menjadi 775 kasus di 2023, kemudian 888 kasus di 2024, hingga akhirnya menembus 995 kasus pada 2025.

Di sisi lain, kasus Infeksi Menular Seksual (IMS) justru menunjukkan tren menurun. Dari 179 kasus pada 2022, turun menjadi 102 kasus di 2023, lalu 67 kasus pada 2024, dan kembali menurun menjadi 62 kasus pada 2025.

Data tahun 2023 dan 2024 juga menunjukkan pola serupa, di mana Sungai Durian konsisten menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi. Pada 2024 misalnya, wilayah ini mencatat 32 kasus dengan 5 kematian, jauh di atas wilayah lain.

Kondisi ini menjadi peringatan serius bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan. Upaya pencegahan, edukasi, serta deteksi dini dinilai harus lebih masif dilakukan, terutama di wilayah dengan angka kasus tinggi.

Selain itu, penguatan layanan kesehatan di tingkat puskesmas juga menjadi kunci dalam menekan laju penularan sekaligus meningkatkan kualitas penanganan bagi penderita.

Tanpa langkah cepat dan terukur, tren peningkatan kasus HIV/AIDS di Sintang berpotensi terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *