Mandi Lumpur Demi Sekolah, Siswa SMPN 5 Sepauk Tagih Janji Pemerintah

Diposting pada

SINTANG | Pojokkalbar.com-
Sekolah seharusnya menjadi tempat menimba ilmu, bukan arena uji nyali. Namun realitas pahit itulah yang setiap hari dihadapi siswa SMP Negeri 5 Sepauk, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Demi belajar, mereka harus siap mandi lumpur sebelum bel masuk berbunyi.

Akses jalan menuju SMPN 5 Sepauk berubah menjadi kubangan bubur lumpur, terutama saat musim hujan. Licin, berlumpur, dan nyaris tak bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Sedikit lengah, tubuh meluncur jatuh. Seragam cokelat-putih kotor, sepatu berbalut lumpur, menjadi pemandangan yang berulang—dan dianggap biasa.

Padahal, ruas jalan penghubung Desa Bedayan–Desa Nanga Libau tersebut berstatus jalan kabupaten. Ironisnya, kondisi memprihatinkan ini bukan terjadi setahun dua tahun, melainkan sudah puluhan tahun tanpa sentuhan perbaikan yang berarti.

Jeritan itu akhirnya keluar dari mulut siswa sendiri. Dalam sebuah video yang beredar luas, Ahmad Sabriyanto, siswa kelas IX, dengan polos namun tegas menagih tanggung jawab pemerintah.

“Kami tiap hari sering jatuh, sering mandi lumpur. Kalau hujan, jalannya tidak bisa dilewati. Kami juga sering terlambat ke sekolah,” kata Ahmad dalam video tersebut. Pada Pojokkalbar.com Kamis,(15/1/2026). Pagi.

Ahmad merupakan siswa asal Dusun Kerentanak, Desa Nanga Libau, yang setiap hari harus menempuh perjalanan berisiko tinggi menuju SMPN 5 Sepauk di Desa Bedayan. Jalan rusak seolah menjadi “biaya tambahan” yang harus dibayar anak-anak desa demi pendidikan.

Kondisi terparah terdapat di empat titik kerusakan berat. Lokasinya di Dusun Puduk RT/RW 01B/01 Desa Bedayan, Kecamatan Sepauk, sekitar 800 meter sebelum sekolah. Total panjang jalan yang rusak parah mencapai ±500 meter, terpecah di empat titik kritis yang rawan kecelakaan.

Karena bertahun-tahun tak kunjung diperbaiki, siswa dan guru akhirnya turun tangan secara swadaya. Mereka menyusun titian dari papan agar bisa melintas. Sebuah potret getir: ketika infrastruktur negara tak hadir, anak-anak sekolah dan guru harus memeras tenaga sendiri demi bisa belajar dan mengajar.

“Kami cuma minta jalannya diperbaiki, supaya bisa sekolah dengan aman,” ujar Ahmad singkat.

Sampai kapan siswa SMPN 5 Sepauk harus terus mandi lumpur demi pendidikan? Pertanyaan ini kini menggantung tajam—menunggu jawaban nyata, bukan janji, dari pemerintah daerah.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *