Guru Diminta Pahami Kondisi Psikologis Anak, Pendekatan Humanis Jadi Kunci

Diposting pada

SINTANG | Pojokkalbar.com-
Psikolog M. Mahyudi, mengajak para guru dan pendamping sekolah memahami kondisi psikologis anak secara lebih utuh sebelum memberikan respons terhadap perilaku mereka.

Menurut Mahyudi, masa remaja merupakan periode ketika anak sedang menyusun identitas diri. Perubahan fisik dan emosi pada fase tersebut dapat memengaruhi rasa percaya diri, sementara penerimaan dari teman sebaya menjadi semakin penting bagi anak.

“Perubahan pada masa remaja tidak berlangsung sama pada setiap anak,” demikian salah satu poin yang ditekankan dalam materi psikologi sekolah yang disampaikannya. Pada acara Kerja Sama Lintas Sektor Dalam Pencegahan KTA ABH dan Perkawinan Anak yang digelar oleh Dinas KBP3A Sintang di Balai Praja Kantor Bupati Sintang Rabu,(30/9/2026).

Mahyudi menjelaskan, guru memiliki peran penting dalam menciptakan hubungan yang konsisten dengan siswa serta menyediakan ruang bagi anak untuk bertanya dan menyampaikan pengalaman yang mereka hadapi.

Ia juga menekankan bahwa proses belajar akan lebih mudah ketika tujuan, latihan dan umpan balik saling terhubung. Karena itu, guru disarankan menjelaskan tujuan pembelajaran dengan bahasa yang dapat dipahami anak, memberikan kesempatan untuk mencoba dan memperbaiki kesalahan, serta memberikan umpan balik terhadap usaha dan strategi yang dilakukan anak, bukan memberikan label terhadap dirinya.

Perilaku Anak Harus Dilihat dari Konteks

Mahyudi mengingatkan agar guru tidak terburu-buru memberikan penilaian terhadap perilaku anak.

Sebelum menentukan respons, guru perlu melihat apa yang terjadi sebelum perilaku tersebut muncul, kapan dan bersama siapa perilaku itu terjadi, serta kemungkinan adanya persoalan lain seperti kesulitan belajar, konflik dengan teman atau tekanan di lingkungan keluarga.

“Dengarkan versi anak dan pihak terkait secara terpisah,” menjadi salah satu prinsip yang ditekankan dalam materi tersebut.

Dalam menangani persoalan siswa, keselamatan dan martabat anak juga harus menjadi prioritas sejak laporan pertama. Guru perlu menghentikan bahaya yang sedang berlangsung, mengajak anak berbicara di tempat yang tenang, mendengarkan dan mencatat fakta, serta menjelaskan batas kerahasiaan.

Mahyudi turut mendorong penggunaan bahasa yang tidak menghakimi. Pertanyaan terbuka dinilai dapat membantu anak menjelaskan pengalaman mereka dengan lebih nyaman.

Beberapa pendekatan yang dapat digunakan antara lain, “Saya ingin memahami apa yang terjadi menurutmu,” atau “Saya melihat kamu tampak kesulitan. Apa yang paling berat?”

Disiplin Tetap Memiliki Batas

Pendekatan humanis, kata Mahyudi, bukan berarti sekolah menghilangkan aturan dan disiplin.

Anak tetap perlu memahami akibat dari perilakunya dan diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Sekolah perlu menghentikan tindakan yang menyakiti, menegaskan aturan, membantu anak memahami dampaknya terhadap orang lain, serta menyepakati tindakan perbaikan yang aman dan realistis.

Dalam kasus perundungan atau persoalan yang menyangkut keselamatan anak, penanganan harus dilakukan secara terkoordinasi. Anak yang terdampak perlu dilindungi, kontak yang membahayakan dihentikan, laporan dicatat dan privasi dijaga sesuai mekanisme sekolah.

Jika terdapat dugaan kekerasan, ancaman bunuh diri atau gejala berat, sekolah perlu segera menghubungkan anak dengan layanan yang berwenang.

Mahyudi juga mendorong sekolah memiliki rencana dukungan yang jelas untuk setiap kasus. Salah satunya dengan menetapkan pendamping sekolah, menyepakati dukungan belajar dan target perilaku yang terukur, melakukan evaluasi secara berkala, serta merujuk anak kepada psikolog atau layanan kesehatan apabila kebutuhannya berada di luar kapasitas sekolah.

Menurut materi tersebut, kehadiran orang dewasa yang aman dapat membantu anak kembali belajar. Karena itu, pendekatan kepada anak perlu mengedepankan tiga hal, yakni mendengarkan pengalaman anak, menetapkan batas perilaku, serta melakukan tindak lanjut bersama sesuai kewenangan sekolah. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *