Gas Subsidi Dijarah, Warga Ambalau Dipaksa Kembali ke Zaman Kayu Bakar

Diposting pada

SINTANG | Pojokkalbar.com-
Skandal elpiji 3 kilogram di Kabupaten Sintang kian telanjang. Gas melon bersubsidi yang digadang-gadang “stok aman” justru raib dari peredaran. Yang tersisa hanya harga liar dan dapur warga yang kembali berasap kayu bakar.

Sudah berbulan-bulan masyarakat resah. Elpiji 3 kg menghilang misterius, terutama di wilayah pedalaman. Desa Nanga Kemangai, Kecamatan Ambalau, menjadi potret telanjang kegagalan distribusi. Gas subsidi nyaris tak terlihat. Kalaupun ada, harganya bikin geleng kepala: Rp70 ribu per tabung.

Padahal, HET resmi hanya Rp18.500.

Selisih harga yang menganga ini memunculkan satu pertanyaan keras: ke mana gas subsidi itu mengalir?

Fakta di lapangan menunjukkan, kelangkaan terjadi bukan di agen besar, melainkan di tingkat pengecer. Situasi ini memperkuat dugaan adanya permainan distribusi, penimbunan, hingga praktik dagang yang menindas masyarakat kecil.

Akibat kelangkaan ini, warga dipaksa mundur ke masa lalu. Kompor gas menganggur. Kayu bakar kembali jadi senjata dapur.

“Gas tidak ada. Mau tidak mau pakai kayu. Sudah capek mengeluh, tapi tidak ada solusi,” ujar Rikawati, ibu rumah tangga asal Desa Nanga Kemangai, dengan nada getir. Pada Pojokkalbar.com Selasa, (6/1/2026).

Ironisnya, kelangkaan ini bukan kasus terisolasi. Hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Sintang mengalami hal serupa. Namun klaim “stok cukup” terus digaungkan, seolah menampar realitas di lapangan.

Bagi warga, ini bukan sekadar soal mahalnya gas. Ini soal hak. Elpiji 3 kg adalah subsidi negara untuk masyarakat miskin. Ketika barang itu langka dan harganya dipermainkan, maka yang terjadi adalah perampasan hak hidup rakyat kecil.

Rikawati menyuarakan jeritan banyak ibu rumah tangga di Ambalau.

“Kami cuma minta harga kembali normal. Pangkalan jangan jual sesuka hati. Kami ini orang kecil, uang harus dibagi untuk makan, sekolah anak, dan kebutuhan lain. Jangan kami terus yang jadi korban,” tegasnya.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, publik pantas curiga. Apakah negara benar-benar hadir? Ataukah gas subsidi justru menjadi ladang basah oknum yang bermain di balik jeritan dapur rakyat?

Kelangkaan gas melon ini memaksa warga kembali ke cara lama. Kompor gas tak lagi berguna. Kayu bakar kembali mengepul di dapur-dapur warga.

Hal senada disampaikan Marleni, warga Desa Nanga Kemangai. Ia mengaku tak punya pilihan lain selain memasak menggunakan kayu bakar lantaran elpiji 3 kilogram benar-benar tak ditemukan di desanya.

“Bukan mahal lagi, tapi memang tidak ada. Sudah cari ke mana-mana, tetap kosong. Jadi terpaksa pakai kayu bakar,” kata Marleni.

Kondisi ini mempertegas bahwa persoalan elpiji 3 kilogram di Ambalau bukan sekadar lonjakan harga, melainkan kelangkaan total. Gas subsidi yang seharusnya tersedia untuk masyarakat kecil justru lenyap dari peredaran, sementara klaim stok aman terus digaungkan.

Bagi warga, situasi ini semakin menyakitkan. Negara seolah absen di dapur rakyat. Ketika gas subsidi menghilang, yang tersisa hanyalah asap kayu bakar dan pertanyaan besar tentang ke mana aliran gas melon itu sebenarnya berlabuh.

Persoalan elpiji 3 kilogram di Sintang kini bukan lagi isu distribusi biasa. Ini sudah menjelma menjadi alarm keras dugaan kejahatan ekonomi terhadap masyarakat kecil.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *